Selasa, 25 November 2014

Pencitraan Lebih Penting dari Substansi ??




“Pencitraan Lebih Penting dari Substansi”,  terhenyak ketika mendengar kalimat tersebut. Otak ini kemudian bergerak untuk mengingat beberapa kejadian yang telah terlewati belakangan ini. Tidak terlalu dekat mungkin, atau bahkan bisa dibilang sudah lama ; demokrasi, pesta rakyat, pemilu !! Dan Presiden yang terpilih sebagai akibat dari proses itupun tak lepas dari yang namanya proses Pencitraan dalam rangka penjaringan massa. Begitulah slentingan ungkapan yang sering terdengar.
Mungkin memang benar begitu adanya, karena mau tidak mau dalam proses melihat ‘sesuatu’ pasti tidak bisa langsung melihat dalamnya dan yang menjadi pemandangan pertama dalam melihat ya bagian luarnya dulu. Maka ‘pencitraan’ itu bisa menjadi suatu hal yang wajib ketika ingin diperhatikan,  dilirik atau disukai oleh orang lain, karena rasa suka dan ketertarikan bisa muncul dari kesan pertama saat melihat sesuatu. Perlu disadari bersama bahwa kesan pertama itu muncul pasti saat melihat sesuatu di kali pertama juga, dan yang terlihat di kali pertama pastilah pemandangan luar. Dan itulah kenapa pencitraan dilakukan yaitu untuk memperbaiki, mempercantik bagian luar terlebih dahulu agar ketertarikan orang lain muncul untuk bisa mengikuti apa yang dikehendaki ‘pelaku pencitraan’ tersebut dengan mengesampingkan bagian dalam (kepribadian)nya.
Ada juga ungkapan bahwa ‘jangan melihat –menilai- sesuatu dari sampul (cover)nya’. Mereka yang terlalu membenarkan ungkapan tersebut cenderung melakukan pembelaan terhadap sesuatu atau seseorang yang tampilannya memang jelek, kurang memikat dan memang kurang terawat tanpa usaha untuk memperbaikinya. Mereka beralibi isi hati atau dalamnya itu lebih penting tanpa memperhatikan penampilan luar. Iya, itu memang benar tapi tidak harus selalu di benarkan juga. Letak kesalahannya pada ketika membenarkan ungkapan tersebut maka akan mempengaruhi kelakuan si pelaku, cover atau tampilan luar akan tidak terlalu dipentingkan dan diperhatikan karena beranggapan segala sesuatunya jangan dilihat dari tampilan luar akibatnya ya tampilan luar hanya akan terlihat seadanya tanpa dipoles.
Tampilan yang seadanya itulah yang berbahaya. Tampilan yang seadanya akan menyebabkan keengganan orang lain untuk mendekat, bahkan tertarikpun tidak. Ketika hal tersebut terjadi maka isi yang bagus , (dalam) yang baik, substansi yang penting akan tidak berguna akan tidak terpakai akan tidak bermanfaat karena itu hanya diketahui diri sendiri tanpa terpublish oleh umum.
Jadi, cover atau tampilan jelas penting untuk indikator penglihatan dan pandangan orang lain, tapi yang paling penting isi substansinya itu juga harus diselaraskan dengan keelokan tampilan luar.
Ungkapan yang lebih tepat (menurutku) adalah “melihat sesuatu  (seseorang) penting dari cover atau tampilan luar , tapi menilai sesuatu(seseorang) harus dari isi dalamnya dan substansinya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar