“Pencitraan Lebih Penting dari Substansi”, terhenyak ketika mendengar kalimat tersebut.
Otak ini kemudian bergerak untuk mengingat beberapa kejadian yang telah
terlewati belakangan ini. Tidak terlalu dekat mungkin, atau bahkan bisa
dibilang sudah lama ; demokrasi, pesta rakyat, pemilu !! Dan Presiden yang
terpilih sebagai akibat dari proses itupun tak lepas dari yang namanya proses
Pencitraan dalam rangka penjaringan massa. Begitulah slentingan ungkapan yang
sering terdengar.
Mungkin memang benar begitu adanya, karena mau tidak mau
dalam proses melihat ‘sesuatu’ pasti tidak bisa langsung melihat dalamnya dan
yang menjadi pemandangan pertama dalam melihat ya bagian luarnya dulu. Maka
‘pencitraan’ itu bisa menjadi suatu hal yang wajib ketika ingin
diperhatikan, dilirik atau disukai oleh
orang lain, karena rasa suka dan ketertarikan bisa muncul dari kesan pertama
saat melihat sesuatu. Perlu disadari bersama bahwa kesan pertama itu muncul
pasti saat melihat sesuatu di kali pertama juga, dan yang terlihat di kali
pertama pastilah pemandangan luar. Dan itulah kenapa pencitraan dilakukan yaitu
untuk memperbaiki, mempercantik bagian luar terlebih dahulu agar ketertarikan
orang lain muncul untuk bisa mengikuti apa yang dikehendaki ‘pelaku pencitraan’
tersebut dengan mengesampingkan bagian dalam (kepribadian)nya.
Ada juga ungkapan bahwa ‘jangan melihat –menilai- sesuatu
dari sampul (cover)nya’. Mereka yang terlalu membenarkan ungkapan tersebut
cenderung melakukan pembelaan terhadap sesuatu atau seseorang yang tampilannya
memang jelek, kurang memikat dan memang kurang terawat tanpa usaha untuk
memperbaikinya. Mereka beralibi isi hati atau dalamnya itu lebih penting tanpa
memperhatikan penampilan luar. Iya, itu memang benar tapi tidak harus selalu di
benarkan juga. Letak kesalahannya pada ketika membenarkan ungkapan tersebut
maka akan mempengaruhi kelakuan si pelaku, cover atau tampilan luar akan
tidak terlalu dipentingkan dan diperhatikan karena beranggapan segala
sesuatunya jangan dilihat dari tampilan luar akibatnya ya tampilan luar hanya
akan terlihat seadanya tanpa dipoles.
Tampilan yang seadanya itulah yang berbahaya. Tampilan yang
seadanya akan menyebabkan keengganan orang lain untuk mendekat, bahkan
tertarikpun tidak. Ketika hal tersebut terjadi maka isi yang bagus , (dalam)
yang baik, substansi yang penting akan tidak berguna akan tidak terpakai akan
tidak bermanfaat karena itu hanya diketahui diri sendiri tanpa terpublish oleh
umum.
Jadi, cover atau tampilan jelas penting untuk
indikator penglihatan dan pandangan orang lain, tapi yang paling penting isi
substansinya itu juga harus diselaraskan dengan keelokan tampilan luar.
Ungkapan yang lebih tepat (menurutku) adalah “melihat
sesuatu (seseorang) penting dari cover
atau tampilan luar , tapi menilai sesuatu(seseorang) harus dari isi dalamnya
dan substansinya”