Seperti halnya dinding yang bersih, putih, mulus, rata jika sudah ditancap paku maka ketika paku itu dicabut pasti akan meninggalkan bekas. Bekas itu terlihat nyata dan jelas seperti simbol kesakitan yang dialami dinding tersebut. Untuk mengobati dan mengembalikan dinding itu seperti bentuk semula, sangatlah tidak mudah, jika ditambal dengan semen terbaru dan terbaguspun dinding itu tidak sama seperti awalnya, akan ada tembel-tembelan yang tidak meperindah bentuk aslinya. Mungkin salah satu alternatif untuk memperbaiki luka paku itu dengan merobohkan dinding dan membangunnya lagi dengan bentuk yang baru,, agar luka paku itu lenyaap tak berbekas.
Keadaan dinding dan luka yang ditimbulkan paku tersebut menjadi salah satu perumpamaan sakit hati manusia. Ketika seseorang sudah merasakan sakit hati, maka tidak mudah untuk mengembalikan hati itu seperti semula. Luka yang di timbulkan akan selalu membekas dihati dan bahkan mungkin akan selalu di ingat-ingat. Luka itupun bisa menyebabkan hubungan persaudaraan / silaturahmi menjadi runtuh. Bubar.
Sebelum rasa sakit itu muncul, sebelum mengobati luka yang terlanjur timbul, ternyata mencegah itu lebih baik. Memanage hati terlebih dahulu, mempertebal dinding hati agar tak mudah rapuh. Mempertebal dinding hati bisa dengan cara
*sering mendengarkan tausiyah atau pengajian-pengajian kerohanian agar hati kita selalu terjaga, selalu terpantau.
*Toleransi antar teman, saudara dan lain orangpun harus selalu ditingkatkan agar hidup bermasyarakat lebih nyaman.
*Diusahakan jangan terlalu sering bersu'udzon (buruk sangka) kepada orang lain. Berkhusnudzonlah.
Dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan untuk mencegah hati yang sakit dan terluka, pahami dulu keadaan diri sendiri agar bisa menyikapi apapun yang akan terjadi pada diri ini nantinya. :-)
Walloohu 'alamu bishowaab.
30/04/2014
@rumahdawuan